Islam pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M melalui jalur
Afrika Utara. Spanyol sebelum kedatangan Islam dikenal dengan nama Iberia/
Asbania, kemudian disebut Andalusia, ketika negeri subur itu dikuasai bangsa
Vandal. Dari perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya Andalusia.[[1]]
Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan
menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayah. Penguasaan
sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705
M). Khalifah Abd al-Malik mengangkat Hasan ibn Nu’man al-Ghassani menjadi
gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan ibn Nu’man sudah
digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushair
memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain
itu, ia juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa
Barbar di pegunungan-pegunungan. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari
pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah Bani
Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan
Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid). Sebelum dikalahkan
dan kemudian dikuasai Islam, dikawasan ini terdapat kantung-kantung yang
menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gotik.
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat
dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah
Tharif ibn Malik, Tharik ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Tharif dapat disebut
sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada diantara
Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang lima ratus orang di
antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang
disediakan oleh Julian. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta
rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan
kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol
pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan
perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak
7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penaklukan Spanyol karena
pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari
sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian
lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian
menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat
pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal
dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dalam pertempuran di Bakkah, Raja
Roderick dapat dikalahkan. Dari situ seperti Cordova, Granada dan Toledo (Ibu kota
kerajaan Goth saat itu).[[2]]
Kebudayaan islam memasuki Eropa melalui beberapa jalan, antara lain melewati
Andalusia. Ini karena kaum muslimin telah menetap di negeri itu sekitar 8 abad
lamanya. Pada masa itu kebudayaan Islam di negeri itu mencapai puncak
perkembangannya. Kebudayaan Islam di Andalusia mengalami perkembangan yang
pesat diberbagai pusatnya, misalnya Cordova, Sevilla, Granada, dan Toledo.
[[3]]
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan
untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Selanjutnya, keduanya berhasil
menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya mulai dari
Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya
muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz tahun 99 H/717 M,
dengan sasarannya menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis
Selatan. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya
dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan
melebar jauh ke Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal
itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal. Faktor
eksternalnya antara lain pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam,
kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan yang
menyedihkan.[[4]] Begitu
juga dengan adanya perebutan kekuasaan di antara elite pemerintahan, adanya
konflik umat beragama yang menghancurkan kerukunan dan toleransi di antara
mereka.[[5]]
Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, raja terakhir
yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran Ghot adalah ketika Raja Roderick
memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza yang
saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo diberhentikan begitu saja.
Hal
yang menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang
terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang.
Selain itu orang Yahudi yang selama ini tertekan juga telah mengadakan
persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Adapun faktor internalnya yaitu suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh
penguasa, tokoh-tokoh perjuangan dan para prajurit Islam yang terlibat dalam
penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh
yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Sikap toleransi
agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu
menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.
Sejarah panjang yang dilalui umat
Islam di Spanyol itu dibagi menjadi enam periode yaitu [[6]]
:
1.
Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah
pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang terpusat di
Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai
secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik dari dalam maupun dari
luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite
penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat
perbedaan pandangan antara Khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang
berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak
menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali
pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.
Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara.
Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal
Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang
terus-menerus bersaing yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab
Selatan). Perbedaan etnis ini sering kali menimbulkan konflik politik, terutama
ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu
tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu
yang agak lama. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd al-Rahman Al-Dakhil
ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.
2.
Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah
pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak
tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh Khalifah
Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol
tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Ia
berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol
pada periode ini adalah Abd al-Rahman al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd
al-Rahman al-Ausath, Muhammad ibn Abd al-Rahman, Munzir ibn Muhammad, dan
Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai
memperoleh kemajuan-kemajuan baik dibidang politik maupun bidang peradaban. Abd
al-Rahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota
besar Spanyol. Hisyam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran.
Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd al-Rahman
al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga
mulai pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Ausath.
Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara
terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesahidan
(Martyrdom). Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari
umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk
negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu sejumlah orang
yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah
pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di
pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar
dan orang-orang Arab masih sering terjadi[[7]].
Namun ada yang berpendapat pada periode ini
dibagi menjadi dua yaitu masa KeAmiran (755-912) dan masa ke Khalifahan (912-1013).[[8]]
3.
Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari
pemerintahan Abd al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya
“raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode
ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar Khalifah, penggunaan khalifah
tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa
Muktadir, Khalifah daulah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh
pengawalnya sendiri. Menurut penilainnya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana
pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat
ini merupakan saat yang tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang
dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah gelar ini
dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode
ini ada tiga orang yaitu Abd al-Rahman al-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976
M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai
puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad.
Abd al-Rahman al-Nasir mendirikan universitas Cordova.
Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri
yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu Spanyol sudah
terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
4.
Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi
lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan
atau Al-Mulukuth-Thawaif yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova,
Toledo dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville.
Pada periode ini umat Islam memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau
terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang
meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang
menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen
pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan
politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode
ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan
perlindungan dari satu istana ke istana lain.
5.
Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih
terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan,
yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun
(1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang
didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil
mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Pada masa dinasti
Murabithun, Saragosa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M.
Dinasti Muwahhidun didirikan oleh Muhammad
ibn Tumazi (w.1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd
al-Mun’im. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di
Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan
penguasanya memilih meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235
M. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh
tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.
6.
Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada peride ini yaitu antara tahun
(1232-1492) ketika umat islam Andalus bertahan diwilayah Granada dibawah kuasa
dinasti bani Amar pendiri dinasti ini adalah Sultan Muhammad bin Yusuf bergelar
Al-Nasr, oleh karena itu kerajaan itu disebut juga Nasriyyah.
Periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah
Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami
kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nasir.
Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan
terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam
perebutan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya
karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia
memberontak dan berusaha merampas kekuasaannya. Dalam pemberontakan itu,
ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian
meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua
penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik
tahta. Tentu saja, Ferdenand dan Isabella yang mempersatukan kedua kerajaan
besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup puas. Keduanya ingin merebut
kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan
serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia
menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika
Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M.
Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi
meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam
didaerah ini.
1.
Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negara yang subur. Masyarakat
Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari
komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan) al-Muwalladun (orang-orang Spanyol
yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara),
al-shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi
tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara
bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih
menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir
memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia
yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
a)
Filsafat
Islam
di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam
bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang
dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. minat terhadap
filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama
pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd al-Rahman
(832-886 M).
Tokoh
utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn
al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama yang kedua adalah
Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asa, sebuah dusun kecil di sebelah
timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M.
Bagian
akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar
di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Rusyd dari Cordova.
Pada
abad ke 12 diterjemahkan buku Al-Qanun karya Ibnu Sina (Avicenne) mengenai
kedokteran. Diahir abad ke-13 diterjemahkan pula buku Al-Hawi karya Razi yang
lebih luas dan lebih tebal dari Al-Qanun.
b)
Sains
Abbas
ibn Fama termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia orang yang pertama kali
menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam
ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan
menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat
menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahad ibn Ibas dari
Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umi al-Hasan bint Abi Ja’far dan
saudara perempuan al-Hafidzh adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan
wanita.
Dalam
bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak
pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang
negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Bathuthah dari Tangier
(1304-1377 M) mencapai Samudra Pasai dan Cina. Ibn Khaldun (1317-1374 M)
menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dart Tum adalah perumus
filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol yang
kemudian pindah ke Afrika.
c)
Fiqh
Dalam
bidang fiqih, Spanyol dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang
memperkenalkan mazhab ini disana adalah Ziyad ibn Abd al-Rahman. Perkembangan
selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pad masa Hisyam ibn
Abd al-Rahman. Ahli-ahli fiqh lainnya yaitu Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir
ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
Sedillot berkata, “Mazhab Maliki itulah yang
secara khusus memikat pandangan kita karena hubungan kita dengan bangsa Arab
Afrika. Pada waktu itu pemerintah Prancis menugaskan Dr. Peron untuk
menerjemahkan buku Fiqh Al Mukhtashar karya Al Khalik bin Ishaq bin Ya’qub (w.
1422 M).
d)
Musik dan Kesenian
Dalam
bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan
tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Setiap kali diadakan pertemuan
dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya.
e)
Bahasa dan Sastra
Bahasa
Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol.
Diantara para ahli yang mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara
maupun tata bahasa yaitu Ibn Sayyidih, Ibn malik pengarang Alfiyah, Ibn Huruf,
Ibn Al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan
al-Gharnathi.
2.
Kemegahan Pembangunan Fisik
Orang-orang memperkenalkan pengaturan
hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air
waduk dibuat untuk konservasi. Pengaturan hydrolik itu dibangun dengan
memperkenalkan roda air asal Persia yang dinamakan na’urah (Spanyol Noria).
Namun pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung,
seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, taman-taman. Di antara
pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota al-Zahra, Istana Ja’fariyah
di Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun, mesjid Seville dan istana
al-Hamra di Granada.
D.
Faktor-faktor Pendukung Kemajuan
dan Penyebab Kemunduran
1.
Faktor Pendukung Kemajuan
Kemajuan Al-Andalus sangat ditentukan oleh
adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan
kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman I, Abdurrahman II, dan
Abdurrahman III. Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh
kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan
ilmiah yang terpenting di antara penguasa Bani Umayyah di Al-Andalus dalam hal
ini adalah Muhammad I (852-886) dan Al-Hakam II (961-976).
Toleransi beragama ditegakkan oleh para
penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut
berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Iberia. Untuk orang-orang
Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang
menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing. Masyarakat
Al-Andalus merupakan masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai komunitas, baik
agama maupun bangsa. Dengan ditegakkannya toleransi beragama,
komunitas-komunitas itu dapat bekerja sama dan menyumbangkan kelebihannya
masing masing.
Meskipun ada persaingan yang sengit antara Bani Abbasiyyah di Baghdad dan Umayyah di
Al-Andalus, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa
peperangan. Sejak abad
ke-11 dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan perjalanan dari
ujung barat wilayah Islam ke ujung timur, sambil membawa buku-buku dan
gagasan-gagasan, sehingga membawa kesatuan budaya dunia Islam.
Perpecahan politik pada masa Mulukul
Thawa'if dan sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban.
Masa itu, bahkan merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian, dan
kebudayaan Al-Andalus. Setiap penguasa di Málaga, Toledo, Sevilla, Granada, dan lain-lain berusaha menyaingi Kordoba. Kalau sebelumnya Kordoba
merupakan satu-satunya pusat ilmu dan peradaban Islam di Iberia, Muluk
ath-Thawa'if berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang di antaranya
justru lebih maju.
2.
Faktor penyebab kemunduran
a)
Konflik dengan kerajaan Kristen.
Para penguasa Muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas
dengan taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka,
termasuk posisi hierarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata.
Namun, kehadiran Muslim Arab telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang
Kristen Iberia. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Iberia tidak
pernah berhenti dari pertentangan antara dengan kerajaan-kerajaan Kristen.
b)
Tidak adanya ideologi pemersatu.
Kalau di tempat-tempat lain para muallaf diperlakukan
sebagai orang Islam yang sederajat, di Iberia, sebagaimana politik yang
dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima
orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad
ke-10,
mereka masih memberi istilah 'ibad dan Muwallad kepada para
muallaf itu, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok
etnis non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu
mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut.
c)
Kesulitan ekonomi.
Di paruh kedua masa Islam di Iberia, para
penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat
"serius", sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul
kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan menpengaruhi kondisi politik dan
militer
d) Tidak jelasnya sistem peralihan
kekuasaan.
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di
antara ahli waris. Bahkan, karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan
Muluk ath-Thawaif muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir
di Spanyol jatuh ke tangan Penguasa Katolik di antaranya juga disebabkan
permasalahan ini.
e)
Keterpencilan.
Al-Andalus bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang
sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian,
tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di
sana.
Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga
saat ini banyak yang berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan islam yang
berkembang di periode klasik. Memang banyak Saluran bagaimana peradaban islam
mempengaruhi Eropa, seperti sicilia dan perang salib, tetapi saluran yang
terpenting adalah Spanyol Islam.
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi
Eropa menyerap peradaban islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial,
maupun perekonomian, dan peradaban antar Negara. Orang-orang Eropa menyaksikan
kenyataan bahwa Spanyol berada dibawah kekuasan islam jauh meninggalkan
Negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di
bangunan fisik. Yang terpenting diantaranya adalah pemikiran ibn Rosyd
(1120-1198 M). ia melepaskaa belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan
berpikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara mengikat minat semua orang
berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunnatullah menurut pengertian islam
terhadap pantheisme dan anthropomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya
di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroeisme (Ibn Rusdy-isme) yang
menuntut kebebasan berpikir. Pihak gereja menolak pemikiran rasional yang dibawa
gerakan Averroeisme ini.
Berawal dari gerakan Averroeisme inilah di
eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abd
ke-17 M. buku-buku Ibn Rusdy dicetak di Venesia tahun 1481, 1482, 1483, dan
1500 M. bahkan, edisi lengkap pada tahun 1553 dan 1557 M. karya-karyanya juga
diterbitkan pada abad ke-16 M di Napoli, Bologna, Lyon, Mississippi,dan
Strasbourg, dan di awal abad ke-17 M di Jenewa.
Pengaruh peradaban islam, termasuk di dalamnya
pemikiran ibn Rosyd, ke Eropa yang belajar di Universitas-Universitas islam di
Spanyol, seperti Universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca.
Selama bealajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya
ilmuan-ilmuan muslim. Pusat penerjemahan itu adalah di Toledo. Setelah pulang
ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan Universitas yang sama. Universitas
pertama di Eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M,
tiaga puluh tahun setelah wafatnya ibn Rusyd. Di akhir zaman pertengahan
Eropa, baru berdiri 18 buah Universitas. Di dalam Universitas-Universitas itu,
ilmu yang merak peroleh dari Universitas-Universitas islam diajarkan, seperti
ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling
banyak dipelajari adalah pemikiran Al-Farobi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.
Pengaruh ilmu pengetahuan islam atas Eropa
sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan
kembali (renaissance) pusat Yunani di Eropa pada abad ke-145 M. berkembangnya
pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab
yang di pelajari dan kemudian di terjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.
Walaupun islam akhirnya terusir dari Negara
Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tapi ia telah membidangi gerakan-gerakan
di Eropa. Gerakan- gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik
(renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di italia, gerakan reformasi pada
abad ke-17 M. dan pencerahaan (Aufklarung) abad ke-18 M.
